Pertemuan Erdogan-Putin, Inilah Kesepakatan Turki-Rusia Untuk Krisis Suriah





ST PETERSBURGH - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terbang ke St Petersburgh memenuhi udangan Presiden Rusia Vladimir Putin, Selasa (9/8).

Pertemuan antara Erdogan dan Putin berfokus pada perbaikan hubungan kedua negara. Pertemuan ini juga merupakan pertemuan pertama kedua kepala negara paska insiden penembakan jet tempur Rusia Su-35 oleh angkatan udara Turki  di wilayah pernbatasan Turki-Suriah akhir tahun lalu.

Upaya normalisasi hubungan kedua negara ini sudah dimulai sebelum kejadian kudeta 15 Juli. Dan peristiwa kudeta militer yang gagal dimana pihak Turki mensinyalir ada keterlibatan Amerika, membuat normalisasi hubungan Turki-Rusia makin kuat.

Selain membahas soal hubungan antara dua negara Turki-Rusia, seperti proyek pipa gas alam Rusia-Turki yang tertunda menyusul krisis jet November lalu, juga soal kerjasama proyek pembangkit listrik tenaga nuklir di provinsi Mersin, Turki selatan, dan penghapusan larangan impor makanan Turki ke Rusia, kedua kepala negara ini juga membahas krisis Suriah dimana kedua negara selama ini berada di kubu yang berbeda. Rusia mendukung rezim Assad, sedang Turki menyokong pihak Rakyat Suriah.

Mengenai konflik Suriah, Putin mengakui bahwa kedua negara memiliki pandangan yang berbeda tetapi kedua negara berbagi tujuan yang sama. Namun rincian kesepakatan untuk Suriah belum disebutkan oleh kedua pihak.

“Sudah jelas bahwa kita memiliki divergensi pada solusi dari krisis Suriah,” Putin mengatakan Selasa (9/8), dalam konferensi pers usai pertemuan dengan Erdogan.

“Kami sepakat untuk menemukan penyelesaian bersama dengan kementerian luar negeri dan intelijen … Kami akan mencoba untuk menemukan solusi yang cocok dalam pendekatan umum ini,” kata Putin seperti dikutip Kantor Berita Anadolu Agency.

Vladimir Putin telah mengkonfirmasi, bahwa krisis Suriah akan dibahas kemudian. “Kami juga telah bertukar pendapat tentang situasi di Eropa. Kami akan membahas krisis di Suriah nanti,” kata Putin.

Pernyataan Putin ini dikonfirmasi juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin.

Turki dan Rusia telah membentuk komite baru untuk membahas krisis Suriah, yang akan bertemu untuk pertama kalinya di Moskow pada Kamis (11/8), juru bicara kepresidenan Turki mengatakan pada hari Rabu.

Dalam pernyataan yang dibuat di stasiun TV Turki A Haber, Ibrahim Kalin mengatakan
perintah untuk membentuk komite baru untuk mengatasi krisis Suriah dikeluarkan setelah pertemuan antara Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin di St Petersburg.

"Para presiden [dari Rusia dan Turki] memberi perintah kemarin [Selasa] untuk mendirikan lagi mekanisme trilateral, yang akan terdiri dari komite dengan perwakilan dari intelijen, militer dan perwakilan diplomatik dari masing-masing pihak."

"Saya pikir panitia akan pergi ke Moskow hari ini [Rabu] malam. Pertemuan pertama akan besok [Kamis]," kata Kalin.

Juru bicara itu mengatakan Turki dan Rusia telah membuka bab baru mengikuti pertemuan antara Erdogan dan Putin di St Petersburg.

Menlu Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan hal senada.

"Para pejabat Turki akan pergi ke St. Petersburg malam ini," kata Cavusoglu, Rabu (10/8). "Delegasi kami akan terdiri dari kementerian luar negeri [personel], Angkatan Bersenjata Turki, bersama dengan kepala intelijen kita."

Cavusoglu juga menyinggung kerjasama Turki-Rusia terhadap Suriah. Dia mengatakan kedua pemerintah menyepakati memperkenalkan gencatan senjata, memberikan bantuan kemanusiaan dan menemukan solusi politik.

"Mungkin ada pemikiran yang berbeda tentang bagaimana menerapkan gencatan senjata," katanya. "Kami sangat tidak ingin serangan yang melukai warga sipil. Kami juga tidak menyetujui menyerang oposisi moderat di Suriah. Kami juga menentang pengepungan Aleppo."

Rincian penyelesaian konflik Suriah akan dibahas Turki-Rusia lebih detil pada pembicaraan setingkat menteri sebagai tindak lanjut pembicaraan antara Presiden Erdogan dan Putin.

Begitulah pemimpin seperti Erdogan, yang dipikirkan adalah nasib dan kondisi umat Islam yang sedang menderita di belahan dunia mana saja. Konsennya adalah bagaimana Turki bisa membantu mengatasi permasalahan yang dialami umat Islam... di Suriah, Palestina, Myanmar, Afrika, dan dimana saja adzan berkumandang.

"Dimana adzan berkumandang, disitulah tanah airku"