Setengah Dekade, Suriah Merindu Hidup Tanpa Konflik

Setengah Dekade, Suriah Merindu Hidup Tanpa Konflik
SURIAH - Mengakhiri April 2016, konflik yang terjadi di Suriah sudah menjejak di tahun keenam. Konflik Suriah jadi arena pertarungan ego politis yang luarbiasa berdampak fatal. Setengah dekade lebih sudah desing peluru, roket dan bom mengisi hari-hari kelam di Suriah. Mengulur kembali waktu ke belakang, konflik Suriah pada awalnya “hanya” dipicu oleh penangkapan sejumlah remaja yang menggambar coretan grafiti di Kota Daraa tahun 2011 silam. Coretan yang mereka bentuk adalah gambaran protes terhadap pemerintahan yang berkuasa hingga kini, rezim Bashar al Assad. Protes yang tampak biasa ini rupanya direspon luar biasa oleh rezim. Berujung dengan ditemukannya jenazah pemrotes.

Tindakan ini memicu 'kemarahan' warga Suriah yang berpuluh tahun hidup dalam rezim represif hasil suksesi penguasa sebelumnya. Demonstrasi damai dan gerakan protes pun berlangsung masif. Menuntu penyelidikan atas kematian para pemrotes. Namun aksi damai ini dijawab dengan respon lebih keras lagi oleh rezim dengan menangkapi  para pemrotes dan melancarkan aksi militer. Imbasnya, masyarakat pun makin marah dan bergerak bangkit melawan rezim.

Sejak itu pertikaian antara rezim dengan rakyatnya sendiri pun terus meningkat. Hingga Juli tahun 2012 silam, organisasi kemanusiaan internasional Palang Merah mengklasifikasi konflik ini sebagai perang saudara. Perang pun menjadi lebih buruk kondisinya seiring dengan riuhnya pihak luar yang ikut terlibat, salah satunya Rusia sebagai sekutu rezim.

Peluru meletus, roket berkejaran dengan waktu membidik target ribuan jiwa warga sipil, dan bom meletus dahsyat tak peduli siapa korbannya. Hari ini, perang Suriah dipandang sebagai krisis kemanusiaan terparah setelah Perang Dunia kedua tahun 1945 silam.

Data yang dihimpun oleh UNHCR sampai tanggal 16 Maret 2016, mencatat lebih dari 4.8 juta penduduk Suriah mengungsi di negara-negara tetangga. Dengan jumlah pengungsi Suriah terbanyak ada di Turki yang sudah menampung lebih dari 2.7 juta jiwa, disusul Lebanon dengan lebih dari 1 juta jiwa pengungsi, Jordan 600 ribu lebih jiwa, lalu menyusul Irak, Mesir, dan Libya.

Belum lagi, jutaan pencari suaka yang nekat menempuh jalur ‘maut’. Melintasi laut Aegean secara ilegal, dari Turki menyeberang ke Eropa. IOM (International Organization for Migration) memperkirakan ada lebih dari 1.011.700 migran asal Suriah yang menempuh perjalanan laut untuk mencapai Eropa. Sementara itu, 34.900 pengungsi lainnya menempuh perjalanan darat.

Angka ini pun diperkirakan akan terus meningkat, mengingat sampai Maret 2016 saja, 144 ribu orang diperkirakan sampai di pintu-pintu Eropa. Mayoritas mereka adalah pengungsi Suriah. Lainnya adalah pengungsi dari negara yang juga sedang berkonflik, seperti Irak dan Afganistan. PBB memprediksi jumlah pengungsi Suriah yang berdatangan ke Eropa, mencapai sekitar 8000 orang per hari nya.

Jumlah pengungsi yang demikian membludak betul-betul membuat kewalahan sejumlah negara yang bersimpati dengan pengungsi Suriah. Libanon misalnya, Jumlah penduduk Lebanon pada tahun 2013 diperkirakan sekitar 4 juta orang, sedangkan sampai dengan hitungan terakhir di Maret 2016 kemarin, Lebanon sudah menampung 1 juta lebih pengungsi Suriah disana. Artinya, perbandingan pengungsi dengan penduduk Suriah adalah sebesar 1:4. Jika rasio yang sama terjadi di Indonesia, ini seperti kita kedatangan 62.5 juta jiwa pengungsi.

Melissa Fleming, juru bicara UNHCR mencoba menggambarkan betapa padatnya jumlah pengungsi Suriah di Lebanon. Sampai mungkin tak ada satupun kota, atau desa di Lebanon yang tidak menampung pengungsi Suriah. Bahkan ada beberapa daerah di Lebanon yang jumlah pengungsi Suriah lebih besar daripada jumlah penduduk aslinya.

Ironi Warga Suriah yang Bertahan

Sementara jutaan warga Suriah sudah melarikan diri dari negerinya, PBB memperkirakan masih ada sekitar 17.9 juta orang yang tetap memilih bertahan di dalam Suriah, jauh dari angka 24.5 juta orang saat perang belum berkecamuk. Dari jumlah tersebut, 13.5 juta diantaranya membutuhkan bantuan kemanusiaan, dan 4.5 juta diantaranya berada di daerah yang sulit terjangkau atau diblokade seperti Deir Ez-Zour. Beberapa waktu silam, kabar kelaparan di Kota Madaya, Deir Ez Zour sampai menjadi viral di kalangan netizen dunia.

Bagi mereka yang tetap bertahan dalam blokade perang Suriah, keadaannya pun tak bisa lebih baik dari mereka yang memilih mengungsi keluar. Data terakhir yang berhasil dihimpun, tingkat pengangguran di Suriah meningkat drastis dari 14% pada tahun 2011, menjadi lebih dari 50%. Bahkan hari ini, hampir 70% warga Suriah hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Kebutuhan dasar seperti pangan dan kesehatan, adalah hal yang mendekati nihil untuk didapatkan. Jikalau logistik tersedia, pasti harganya telah melambung begitu ekstrem.

Menghadapi derita sehari-hari sebagai warga yang terkepung blokade perang, tumpukan masalah hidup telah meresap dalam 24 jam kehidupan warga Suriah. Lapangan pekerjaan merosot, sementara harga barang-barang terus meroket, ditambah kelangkaan pangan yang menambah banyak jumlah bayi-bayi mati kekurangan gizi.

Ironisnya lagi, bahan pangan justru dijadikan sebagai komoditas perang, dengan mengalihkan bantuan kemanusiaan ke dalam pasar gelap, atau hanya diizinkan untuk disalurkan ke daerah-daerah yang telah disetujui oleh pemerintah. Akibatnya, banyak daerah-daerah yang dikuasai oleh oposisi, dilaporkan menderita kelaparan karena tak boleh mendapat akses untuk memperoleh makanan sama sekali. Di banyak tempat, harga-harga kebutuhan bisa drastis menjadi lebih mahal hingga ribuan persen dari harga normal. Sementara di tempat-tempat yang berada di bawah genggaman pemerintah seperti Damaskus, harga bisa dikatakan relatif stabil karena Presiden Bashar al-Asad terus mengimpor bahan makanan seperti gandum dari Ukraina dan Rusia sebagai langkah antisipasi.

Berada di bawah ancaman penembakan, bom, ataupun serangan udara yang bisa terjadi setiap saat, akses kesehatan menjadi hal yang krusial bagi warga Suriah. Namun mirisnya, selama perang berkecamuk, fasilitas-fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan klinik tak luput jadi sasaran penyerangan.

Dari awal terjadinya konflik pada Maret 2011 hingga November 2015, Physicians for Human Right mencatat setidaknya ada 336 penyerangan yang dilakukan pada tidak kurang dari 240 fasilitas kesehatan yang ada di segenap penjuru Suriah. serangan-serangan biadab tersebut menewaskan 697 tenaga medis. Serangan udara terbaru menghantam telak pusat kesehatan Al Quds di Aleppo, menewaskan lebih dari 50 warga sipil, termasuk seorang dokter spesialis anak satu-satunya di Aleppo.

Sementara itu, statistik juga menunjukkan lebih dari 40% penduduk Suriah tidak mendapatkan akses dasar untuk pelayanan kesehatan. Dari 113 rumah sakit yang tersedia, 58% diantaranya tidak beroperasi secara maksimal atau sama sekali tidak dapat beroperasi. Selain ketersediaan tenaga medis dan obat-obatan yang semakin sulit, perjalanan yang harus ditempuh untuk sampai di rumah sakit atau klinik juga dipenuhi dengan bahaya yang mengancam.

“Orang-orang menembaki apapun yang mereka lihat pada malam hari, dan ada sangat banyak checkpoint – yang tidak akan bisa kita lewati. Lagipula jika kita bisa melewatinya (checkpoint tersebut), lantas kita akan kemana? Tidak ada rumah sakit yang buka sekarang, hanya ada klinik darurat yang letaknya sangat jauh,” kisah Ara, seorang relawan dokter melansir dari laporan Save The Children.

“Syria is our country and we want to go back there. We don’t know who is right and who is wrong, but I know we civilians are paying the price.”  ungkao Hiba, seorang pengungsi Suriah di Damaskus, Lebanon.

Konflik Suriah sudah menjejak setengah dekade. Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, konflik ini telah menjadi krisis kemanusiaan terburuk, dan sudah menjadi konsekuensi logis bagi kita sebagai manusia untuk ikut peduli.

sumber : ACT